Selasa, 19 Juni 2012

HUMAN RESOURCE MANAGEMENT : CONCEPT, ENVIRONMENT, STRATEGY AND LAW

Definisi MSDM dan Manajemen Personalia

1.       Edwin B. Flippo :

Manajemen Personalia adalah : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemberhentian karyawan, dengan maksud terwujudnya tujuan perusahaan, individu, karyawan dan masyarakat.

2.       Michel J. Jucius :

Manajemen Personalia adalah lapangan manajemen yang bertalian dengan perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian bermacam-macam fungsi pengadaan, pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan tenaga kerja sedemikian rupa sehingga :

a.        Tujuan untuk apa perkumpulan didirikan dan dicapai secara efisien dan efektif.

b.        Tujuan semua pegawai dilayani sampai tingkat yang optimal.

c.         Tujuan masyarakat diperhatikan dan dilayani dengan baik.

3.       Gary Dessler :

Manajemen Sumber Daya Manusia adalah kebijakan dan praktik yang dibutuhkan seseorang untuk menjalankan aspek “orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen, meliputi perekrutan, penyaringan, pelatihan, pengimbalan dan penilaian.

4.       T. Hani Handoko :

Manajemen Sumber Daya Manusia adalah : penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai baik tujuan-tujuan individu maupun organisasi.

KESIMPULAN :

1.        Fokus kajian MSDM adalah masalah tenaga kerja manusia yang diatur menurut urutan fungsi-fungsinya, agar efektif dan efisien dalam mewujudkan tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.

2.        Karyawan adalah perencana, palaku dan selalu berperan aktif dalam setiap aktifitas perusahaan.
Komponen MSDM dibedakan atas

1.        Pengusaha; sebagai investor modal bagi perusahaan.

2.        Karyawan; menetapkan rencana, sistem, proses dan tujuan yang ingin dicapai.

a.         Karyawan operasional adalah setiap orang yang secara langsung harus mengerjakan sendiri pekerjaannya sesuai dengan perintah atasan.

b.         Karyawan manajerial adalah setiap orang yang berhak memerintah bawahannya untuk mengerjakan sebagaian pekerjaannya dan dikerjakan sesuai dengan perintah. Karyawan manajerial dibedakan atas :

Ü  Manajer lini : manajer yang diberi wewenang untuk mengarahkan pekerjaan bawahan dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Ü  Manajer staf : manajer yang membantu dan menasehati manajer lini.

3.       Pemimpin atau Manajer adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan.

Persamaan dan Perbedaan manajemen personalia dan manajemen SDM adalah :

1.       Persamaan manajemen Personalia dan MSDM adalah keduanya merupakan ilmu yang mengatur unsur manusia dalam suatu organisasi, agar mendukung terwujudnya tujuan.

2.       Perbedaannya :

a.        MSDM dikaji secara makro (: tidak hanya menyangkut suatu proses dan sistem saja, tetapi secara psikologi dan perilaku karyawannya) dan Manajemen personalia dikaji secara mikro.

b.        MSDM menganggap bahwa karyawan adalah asset (kekayaan) utama organisasi, jadi harus dipelihara dengan baik. Manajemen personalia adalah menganggap karyawan adalah faktor produksi, jadi harus dimanfaatkan secara produktif.

Berbagai pendekatan dalam manajemen SDM.

1.        Pendekatan SDM, yaitu martabat dan kepentingan hidup manusia hendaknya tidak diabaikan agar kehidupan karyawan layak dan sejahtera.

2.        Pendekatan Manajerial, yaitu manajemen personalia adalah tanggung jawab setiap manajer, jadi prestasi kerja dan kehidupan kerja setiap karyawan tergantung pada atasan langsungnya.

3.        Pendekatan Sistem, yaitu suatu sistem yang terbuka dan terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan karena masing-masing saling mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal.

4.        Pendekatan Proaktif, yaitu meningkatkan kontribusinya kepada para karyawan, manajer dan organisasi melalui antisipasinya terhadap masalah-masalah yang akan timbul.

Manajer SDM dan departemennya menjalankan 3 fungsi utama, yaitu :

1.       Manajer menggunakan wewenang lini dalam unit dan mengimplikasikan wewenang dimana saja dalam organisasi.

2.       Manajer menggunakan fungsi koordinasi untuk memastikan bahwa sasaran dan kebijakan SDM organisasi dikoordinasi dan diimplementasikan.

3.       Manajer memberi berbagai layanan staf kepada manajemen lini.

Fungsi-fungsi MSDM

Edwin B. Flippo
   

Dale Yorder
   

T. Hani Handoko
   
Gary  Dessler
   

Malayu S.P. Hasibuan

1.    Planning

2.    Organizing

3.    Directing

4.    Controlling

5.    Procurement

6.    Development

7.    Compensation

8.    Integration

9.    Maintenance

10. Separation
   

1.    Staffing

w Recruitment

w Selection

w Promotion

w Placement

2.    Employee, Development & Training

3.    Labour Relation

4.    Wage & Salary Administration

5.    Employee, Benefit & Service

6.    Research including Merriment of Record
   

1.   Penarikan

2.   Seleksi

3.   Pengembangan

4.   Pemeliharaan

5.   Penggunaan

   

1.   Recruitment

2.   Selection

3.   Training

4.   Compensation

5.   Job analysis

6.   Development

   

1.   Planning

2.   Organizing

3.   Directing

4.   Controlling

5.   Procurement

6.   Development

7.   Compensation

8.   Integration

9.   Maintenance

10.Disciplines

11.Separation

Perubahan-perubahan dalam lingkungan MSDM menuntut SDM untuk memainkan peranan yang lebih utama dalam organisasi, yang mencakup :

1.       Keragaman angkatan kerja yang terus tumbuh.

2.       Perubahan tehnologi yang cepat.

3.       Globalisasi.

4.       Perubahan-perubahan dalam dunia kerja, seperti pergeseran kearah masyarakat jasa dan tekanan yang terus berkembang pada pendidikan dan modal manusia.

Perubahan peran dari MSDM dalam menyesuaikan diri dengan trend-trend yang terjadi saat ini, yaitu :

1.       SDM dan Pendorong produktivitas, artinya adalah dalam menciptakan suatu keunggulan kompetitif dan efisiensi dan efektifitas organisasi.

2.       SDM dan Ketanggapan, organisasi harus tanggap terhadap inovasi produk dan perubahan tehnologis.

3.       SDM dan Jasa, artinya gunakanlah praktik-praktik SDM yang progresif untuk membangun komitmen dan semangat kerja karyawan.

4.       SDM dan Komitmen karyawan, artinya memberikan perhatian terhadap perlakuan adil atas keluhan-keluhan dan hal-hal disipliner karyawan.

5.       SDM dan Strategi Perusahaan, artinya bahwa SDM tanggap terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi, sehingga dibutuhkan pembentukan tim kerja yang setia dan trampil dalam menyusun strategi perusahaan.

Hubungan antara strategi dalam perusahaan multibisnis dapat dirumuskan dalam 3 tipe, yaitu :

1.       Strategi korporasi : untuk mengidentifikasi ramuan bisnis yang akan dimasuki perusahaan.

2.       Strategi bersaing tingkat bisnis : mengidentifikasi bagaimana masing-masing bisnis perusahaan akan bersaing.

3.       Strategi fungsional : mengidentifikasi bagaimana manufacturing, penjualan dan fungsi lain dari unit akan menyumbangkan kepada strategi bisnis.

Sifat dari perencanaan strategis, yaitu :

1.       Membangun keunggulan bersaing : strategi bersaing mengarah kepada suatu posisi yang mampu-laba dan mampu-dukung berhadapan dengan kekuatan yang menentukan persaingan industri.

Ada 3 strategi untuk menciptakan keunggulan kompetitif (Michael Porter) :

w  Overall cost leadership : perusahaan berusaha menjadi pemimpin biaya rendah.

w  Differentiation : perusahan berupaya untuk menjadi unik dalam industrinya sepanjang dimensi yang secara luas dihargai pembeli.

w  Focus : perusahaan berupaya untuk mencari niche market yang belum dilayani oleh pesaing.

2.       SDM sebagai keunggulan bersaing : perusahaan berupaya untuk memperoleh angkatan kerja yang bermutu tinggi.

Faktor-faktor lingkungan dalam keputusan personalia, yaitu :

1.        Lingkungan Eksternal organisasi, yaitu

(a).       Tantangan Teknologi; bertdampak melalui 2 cara : (1). Dampak yang merubah industri secara keseluruhan, misal kemajuan transportasi dan komunikasi meningkatkan mobilitas angkatan kerja. (2). Otomatisasi, misalnya penggunaan komputer dalam perusahaan.

(b).       Tantangan Ekonomi; perubahan ekonomi berdampak pada  : permintaan akan karyawan baru, tumbuh dan berkembangnya program-program pelatihan. Dari perubahan tersebut berdampak pada perusahaan adalah peningkatan kerja, penawaran benefit yang baik, dan perbaikan kondisi kerja.

(c).       Keadaan Politik dan Pemerintah; misalnya kebijakan pemerintah tentang UMP (upah minimum propinsi), keputusan tentang PHK, dan lainnya.

(d).      Tantangan Demografis; misalnya perubahan tingkat pendidikan, umur, persentase penduduk yang termasuk angkatan kerja.

(e).       Kondisi Geografis; misalnya perusahaan yang berlokasi di daerah terpencil, akan mempengaruhi tingkat kompensasi karyawan.

(f).        Kondisi Sosial Budaya; misalnya banyaknya partisipasi tenaga kerja wanita, banyaknya orang dengan mudah memperoleh pendidikan.

(g).       Pasar Tenaga Kerja; ada 3 faktor yang mempengaruhi kegiatan pemenuhan kebutuhan personalia perusahaan, yaitu : (1). Reputasi perusahaan dimata angkatan kerja, (2). Tingkat pertumbuhan angkatan kerja, (3). Tersedianya tenaga kerja dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.

(h).      Kegiatan-Kegiatan Para Pesaing; misalnya pembajakan para manajer, kenaikan gaji/tahun di suatu bank akan berpengaruh pada bank-bank lainnya.

2.        Lingkungan Internal Organisasi, yaitu :

(a).       Karakter Organisasi, adalah : produk semua ciri organisasi : orang-orangnya, tujuan-tujuannya, struktur organisasi, tehnologi, peralatan yang digunakan, kebijakan, ukuran, umur, keberhasilan dan kegagalannya. Jadi, dalam kegiatan-kegiatan personalia harus disesuaikan dengan karakter tersebut.

(b).       Serikat Karyawan; mempunyai tantangan nyata bagi organisasi yang memiliki organisasi buruh, dan tantangan potensial bagi yang tidak memiliki serikat karyawan. Dalam perusahaan yang mempunyai serikat karyawan, manajemen dan serikat mengadakan perjanjian kerja yang mengatur berbagai prasyarat kerja.

(c).       Sistem Informasi mengenai data-data yang menyangkut karyawan perusahaan secara terinci.

(d).      Perbedaan Individual Karyawan; misal perbedaan kepribadian, phisik, bakat dan intelegensia.

(e).       Sistem Nilai Manajer dan Karyawan; misalnya time-off, scheduling kerja, atau disain kerja.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan organisasi, manajemen personalia dan SDM dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

1.        Memonitor lingkungan, untuk mengidentifikasi perubahan variabel lingkungan.

2.        Mengevaluasi dampak perubahan lingkungan.

3.        Mengambil tindakan-tindakan proaktif dari perubahan lingkungan yang terjadi

4.        Mendapatkan dan menganalisa umpan balik.

 Pentingnya Tindakan-Tindakan Peluang Kerja Yang Sama

Tindakan
   
Apa Yang Dilakukan

Title VII of 1964 Civil Rights Act, saat diamandemenkan
   

Melarang diskriminasi karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, negara asal; dilembaga EEOC (: Equal Employment Opportunity Commission / Komisi Peluang Kerja yang Sama)

Executive orders
   

Malarang diskriminasi employment oleh majikan dengan kontrak federal senilai lebih dari  $10.000 (dan subkontraktor mereka); mendirikan kantor pelaksanaan federal; menuntut tindakan program afirmatif

Federal Agency Guidelines
   

Menunjukkan kebijakan yang meliputi diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, negara asal dan agama, juga prosedur seleksi karyawan; sebagai contoh menuntut keabsahan tes.

Keputusan pengadilan tinggi : Griggs vs. Duke power Co.
   

Aturan tentang persyaratan pekerjaan harus dikaitkan dengan keberhasilan pekerjaan; bahwa diskriminasi itu tidak perlu terlalu jelas terbukti; bahwa pengajuan bukti ada pada pihak majikan untuk membuktikan bahwa kualifikasi itu sah.

Equal Pay Act of 1963
   

Undang-undang pembayaran untuk pria dan wanita yang sama yang mejalankan pekerjaan yang sama.

Age Discrimination in Employment  Act of 1967
   

Malarang diskriminasi terhadap seseorang yang berusia 40 th atau lebih dibidang pekerjaan apa pun karena usia

UU lokal & negara bagian
   

Sering mencakup organisasi yang terlalu kecil untuk dicakup undang-undang federal.

Vocational Rehabilitation Act of 1973
   

UU menuntut tindakan afirmatif untuk mempekerjakan dan mempromosikan orang-orang cacat  yang memenuhi persyaratan dan melarang diskriminasi terhadap orang-orang yang cacat.

Pregnancy Discrimination Act of 1978
   

Undang-undang melarang diskriminasi dalam pekerjaan terhadap wanita hamil, atau yang dalam kondisi terkait.

“Vietnam Era Veterans” Readjusment Assistance Act of 1974
   

Undang-undang menuntut tindakan afirmatif dalam pekerjaan untuk para veteran era perang Vietnam.

Ward Cove Vs Atonio Patterson Vs McLean Credit Union
   

Mempersulit pembuktian sebuah kasus tentang yang tidak sah terhadap seorang majikan.

Martin Vs Wilks
   

Memungkinkan tingkat persetujuan diserang dan dapat membawa efek yang mengerikan pada program tindakan afirmatif tertentu

American With Disabilities Act of 1990
   

Memperkuat kebutuhan akan paling banyak majikan untuk menciptakan akomodasi yang layak karyawan penyandang cacat ditempat kerja; melarang diskriminasi.
Civil Rights Act of 1991
   

Membalikkan keputusan Wards Cove, Patterson dan Martin; pengajuan bukti dikembalikan pada majikan  dan mengizinkan kerugian uang kompensasi dan punitif untuk diskriminasi.

Peluang kerja yang sama (equal employment opportunity / EEO) Vs Tindakan afirmatif.

1.     Peluang kerja yang sama bertujuan untuk memastikan bahwa siapa saja, lepas dari ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, negara asal, atau usia memiliki pekerjaan yang sama berdasarkan pada kualifikasinya.

2.     Tindakan afirmatif berlangsung melebihi ‘EEO’ dengan menuntut majikan untuk melakukan suatu upaya tambahan untuk mempekerjakan dan mempromosikan mereka dalam kelompok yang dilindungi, yang mencakup dalam perekrutan, penyewaan, promosi dan kompensasi)

Delapan langkah dalam sebuah tindakan afirmatif (berdasarkan usulan EEOC), yaitu :

1.     Mengeluarkan kebijakan tertulis mengenai peluang kerja yang sama.

2.     Mengangkat seorang pejabat puncak yang diberi wewenang tentang tindakan afirmatif.

3.     Mengumumkan kebijakan.

4.     Mensurvei pekerjaan minoritas dan wanita sekarang.

5.     Mengembangkan tujuan dan jadwal.

6.     Mengembangkan dan mengimplementasikan program khusus untuk mencapai tujuan.

7.     Menetapakan sebuah audit internal dan sistem laporan.

8.     Mengembangkan dukungan dari program-program di dalam perusahaan dan masyarakat.

Dalam rencana merancang tindakan afirmatif terdapat 2 strategi dasar, yaitu :

1.     Good Faith Effort Strategy, yaitu : strategi employment yang diupayakan pada mengubah praktik yang telah menyumbang pada masa lampau untuk menghilangkan atau memanfaatkan kelompok yang dilindungi. Misalnya : memberikan program latihan bagi kelompok minoritas agar dapat bersaing, atau memberikan jasa pengasuh anak kecil bagi wanita yang melakukan kerja lembur.

2.     Quota strategy, yaitu strategi employment mengarahkan pada memadatkan hasil yang sama seperti strategi upaya keyakinan yang baik melalui pembatasan tertentu dalam mempekerjakan dan mempromosikan.

print this page

Manajemen Keuangan

Pengertian Manajemen Keuangan

Manajemen Keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan menggunakannya se-efektif, se-efisien, seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba. Aktivitas itu meliputi :

1.       AKTIVITAS PEMBIAYAAN ( FinancingActivity )

Aktivitas pembiayaan ialah kegiatan pemilik dan manajemen perusahaan untuk mencari sumber modal ( sumber eksternal dan internal ) untuk membiayai kegiatan bisnis.

A.Sumber eksternal

1.       .Modal Pemilik atau modal sendiri (Owner Capital atau Owner Equity). Atau modal saham (Capital Stock ) yang terdiri dari : Saham Istimewa (Preferred Stock) dan Saham Biasa (Common Stock).
2.       Utang (Debt), Utang Jangka Pendek (Short-term Debt) dan Utang Jangka Panjang (Long-term Debt).
3.       Lain-lain, misalnya hibah.

B. Sumber Internal :

1.       Laba Ditahan (Retained Earning)
2.       Penyusutan, amortisasi, dan Deplesi ( Depreciation, Amortization, dan Deplention)
3.       Lain-lain, misalnya penjualan harta tetap yang tidak produktif.


2.      Aktiva Investasi (Investment activity)

aktivitas investasi adalah kegiatan penggunaan dana berdasarkan pemikiran hasil yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecil-kecilnya. Aktivitas itu meliputi :
1.       Modal Kerja (working Capital) atau harta lancar (Current Assets)
2.       Harta Keuangan (Finaceal assets) yang terdiri : investasi pada saham (stock) dan Obligasi (Bond)
3.       Harta Tetap (real Assets) yang terdiri dari : Tanah,gedung, Peralatan.
4.       Harta Tidak Berwujud (intangible assets) terdiri dari : Hak Paten, Hak Pengelolaan Hutan, Hak Pengelolaan Tambang, Goodwill.
3.      Aktivitas Bisnis (Business Activity)

Aktivitas bisnis adalah kegiatan untuk mencari laba melalui efektivitas penjualan barang atau jasa efisiensi biaya yang akan mengahsilkan laba. Aktivitas itu dapat dilihat dari laporan Laba-Rugi, yang terdiri dari unsur :
1.       Pendapatan (sales atau Revenue)
2.       Beban ( Expenses) 
3.       Laba-Rugi ( Profit-Loss)



4.      Tanggung Jawab Manager Keuangan

Aktivitas perusahaan ditinjau dari sudut manajemen keuangan menjadi tugas manajer keuangan. Tugasnya antara lain adalah sebagai berikut :

1.       Perolehan dana dengan biaya murah.
2.       Penggunaan dana efektif dan efisien
3.       analisis laporan keuangan
4.       analisis lingkungan Internal dan eksternal yang berhubungan dengan keputusan rutin dan khusus.

Berdasarkan tugas tersebut, manajemen keuangan memiliki tujuan antara lain adalah ;
1.       Memaksimalkan nilai perusahaan
2.       Membina relasi dengan pasar modal dan pasar uang.
1.      Sifat Dasar Perusahaan

Tujuan perusahaan adalah mencari laba dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam kegiatannya mencari laba,pemilik memberi wewenang kepada manajemen untuk melaksanakannya. Dalam usahanya memperoleh laba manajemen harus berprilaku:
1.       Memaksimumkan nilai perusahaan, artinya manajemen harus mengahasilkan laba lebih besar dari biaya modal yang digunakannya.
2.       Tanggung jawab sosial, artinya dalam mencari laba, manajemen tidak boleh merusak lingkungan alam,sosial, dan budaya.
3.       Etika, artinya manajemen dalam mengusahakan laba harus tunduk pada norma-norma sosial di lingkungan mereka bekerja dan tidak boleh menipu masyarakat konsumen.

2.      Memaksimumkan Nilai Perusahaan

Nilai ialah sesuatu yang dijunjung tinggi dan dihormati. Dalam perusahaan  hal itu diwujudkan dalam perhitungan laba oprasional bersih atau net operating profit after tax yang lazim disebut NOPAT. Perusahaan dapat dikatakan memiliki nilai maksimum jika NOPAT lebih besar dari pada biaya modal yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Misalnya perusahaan memiliki modal Rp 1000, biaya modal yang diperhitungkan 10% per tahun, Laba oprasi Rp150. pajak 20%. Nilai Perusahaan sebesar :

[Laba Operasi (1 – Pajak ) – ( Biaya Modal X Modal)]
                                 Biaya Modal

[Rp 150 ( 1 – 0,20) – (0,10 X Rp 1000)]  =  Rp 1200
                                     0,10

Berdasarakan perlindungan diatas, perusahaan memiliki tambahan nilai modalnya ( atau nilai invetasinya) Rp 1000, sedangkan nilai perusahaan berdasarkan kapitalisasi laba oprasi bersih Rp 1200. Manajemen harus berusaha agar nilai perusahaan semaksimum mungkin, artinya ia harus mampu memperoleh laba operasi sebesar-besarnya dengan modal yang digunakan sekecil mungkin.

3.      Perkembangan Peranan Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan memiliki peran dalam kehidupan perusahaan ditentukan oleh perkembangan ekonomi kapitalisme. Pada awal lahirnya kapitalisme sebagai system ekonomi pada abad 18, manajemen keuangan hanya membahas topic rugi-laba. Selanjutnya berturut-turut ia memiliki peranan antara lain sebagai berikut :
1.       Tahun 1900 awal : Penerbit surat berharga
2.       Tahun 1930 – 1940 : kebangkrutan, reorganisasi
3.       Tahun 1940 – 1950 : anggaran & internal audit
4.       Tahun 1950 – 1970 : eksternal perusahaan
5.       Tahun 1970 – 1980 : inflasi
6.       Tahun 1980 – 1990 : krisis ekonomi keuangan
7.       Tahun 1990 – sekarang : globalisasi

Perkembangan manajemen keuangan sangat dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain kebijakan moneter, kebijakan pajak, kondisi ekonomi, kondisi social, dan kondisi politik. Kebijakan moneter berhubungan dengan tingkat suku bunga dan inflasi. Khususnya inflasi mempunyai dampak langsung terhadap manajemen keuangan antara lain masalah :
1.       Masalah akuntasi
2.       Kesulitan perencanan
3.       Permintaan terhadap modal
4.       Suku bunga
5.       Harga obligasi menurun

Kondisi ekonomi juga mempunyai dampak lansung terhadap manajemen keuangan antar alin masalah :
1.       Persaingan internasional
2.       Keuangan internasional
3.       Kurs pertukaran yang berfluktuasi
4.       Marger, pengambilalihan, dan restrukturisasi
5.       Inovasi keuangan dan rekayasa keuangan


8. Pihak-Pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan

Dalam dunia bisnis, ada beberapa pihak yag memerlukan laporan keuangan, yaitu pihak internal perusahaan dan pihak eksternal perusahaan. Pihak internal perusahaan adalah para manajer pada semua tingkat. Lapotran keuangan itu dijadikan alat untuk mengambil keputusan rutin dan keputusan khusus. Keputusan rutin meliputin keputusan0keputusan yang berhubungan dengan kegiatan oprasi dan keputusan kusus meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan investasi jangka panjang, misalnya mendirikan pabrik baru, memproduksi produk baru, mendirikan anak perusahaan, riset pemsaran, dan sebagainya.

Pihak eksternal yang membutuhkan laporan keuangan antara lain adalah pemegang saham, kantor pajak, pasar modal, lembaga keuangan, serikat buruh, dan sebagainya. Mereka mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dalam menggunakan informasi  laporan keuangan. Pemegang saham untuk menilai investasi; kantor pajak untuk menentukan besarnya pajak penghasilan; pasar modal untuk memperkirakan harga saham; serikat buruh untuk memperkirakan bonus yang akan diterimanya. Pihak-pihak yang memerlukan laporan keuangan disajikan dalam gambar 2.1

Gambar 1.1
Pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan


print this page

Balanced Scorecard Untuk Organisasi Pemerintah

Herry Darwanto

Balanced scorecard adalah metoda yang dikembangkan Kaplan dan Norton untuk mengukur setiap aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam rangka merealisasikan tujuan perusahaan tersebut. Balanced scorecard semula merupakan aktivitas tersendiri yang terkait dengan penentuan sasaran, tetapi kemudian diintegrasikan dengan sistem manajemen strategis. Balanced scorecard bahkan dikembangkan lebih lanjut sebagai sarana untuk berkomunkasi dari berbagai unit dalam suatu organisasi. Balanced scorecard juga dikembangkan sebagai alat bagi organisasi untuk berfokus pada strategi. Bagaimana balanced scorecard diterapkan bagi organisasi pemerintah merupakan tujuan dari penulisan artikel ini. Diskusi mengenai hal itu dimulai dengan pembahasan mengenai sistem manajemen strategis.
Sistem Manajemen Strategis

Sistem manajemen strategis adalah proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi untuk mewujudkan visi secara terus menerus secara terstruktur. Strategi adalah pola tindakan terpilih untuk mencapai tujuan tertentu. Pada mulanya, sistem manajemen strategis bercirikan: mengandalkan anggaran tahunan, berjangka panjang dan berfokus pada kinerja keuangan. Penerapan sistem manajemen strategis yang demikian di banyak perusahaan swasta mengalami kegagalan. Sebab-sebabnya antara lain: hanya 25% manajer yang memiliki insentif yang terhubung ke strategi, 60% perusahaan tidak menghubungkan anggarannya ke strategi,  85% dari tim eksekutif menghabiskan waktu kurang dari satu jam untuk membahas strategi tiap bulan, dan hanya 5% pegawai yang memahami strategi.

Namun sistem manajemen strategis tetap diperlukan karena perusahaan dituntut untuk berkembang secara terencana dan terukur, sehingga memerlukan peta perjalanan menghadapi masa depan yang tidak pasti, memerlukan langkah-langkah strategis, dan perlu  mengarahkan kemampuan dan komitmen SDM untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Balanced scorecard yang dikembangkan oleh Norton dan Kaplan memberikan solusi terhadap tuntutan ini. Peran balanced scorecard dalam sistem manajemen strategis adalah: memperluas perspektif dalam setiap tahap sistem manajemen strategis, membuat fokus manajemen menjadi seimbang, mengaitkan berbagai sasaran secara koheren, dan mengukur kinerja secara kuantitatif.

Penggunaan balanced scorecard dalam konteks perusahan swasta ditujukan untuk menghasilkan proses yang produktif dan cost effective, menghasilkan financial return yang berlipat ganda dan berjangka panjang, mengembangkan sumber daya manusia yang produktif dan berkomitmen, mewujudkan produk dan jasa yang mampu menghasilkan value terbaik bagi customer/pelanggan.

Balanced scorecard diyakini dapat mengubah strategi menjadi tindakan, menjadikan strategi sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yang lebih baik antar karyawan dan manajemen, meningkatkan mutu pengambilan keputusan dan memberikan informasi peringatan dini, serta mengubah budaya kerja. Potensi untuk mengubah budaya kerja ada karena dengan balanced scorecard, perusahaan lebih transparan, informasi dapat diakses dengan mudah, pembelajaran organisasi dipercepat, umpan balik menjadi obyektif, terjadwal, dan tepat untuk organisasi dan individu; dan membentuk sikap mencari konsensus karena adanya perbedaan awal dalam menentukan sasaran, langkah-langkah strategis yang diambil, ukuran yang digunakan, dll.

Kelebihan sistem manajemen strategis berbasis balanced scorecard dibandingkan konsep manajemen yang lain adalah  bahwa ia menunjukkan indikator outcome dan output yang jelas, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan dan non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat. balanced scorecard paling tepat disusun pada saat-saat tertentu, misalnya ketika ada merjer atau akuisisi, ketika ada tekanan dari pemegang saham, ketika akan melaksanakan strategi besar dan ketika organisasi berubah haluan atau akan mendorong proses perubahan. balanced scorecard juga diterapkan dalam situasi-situasi yang rutin, antara lain: pada saat menyusun rencana alokasi anggaran, menyusun manajemen kinerja, melakukan sosialisasi terhadap kebijakan baru, memperoleh umpan balik, meningkatkan kapasitas staf.

Adakah kemungkinan kegagalan dalam menerapkan balanced scorecard? Menyusun balanced scorecard bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak organisasi gagal membuat balanced scorecard karena berbagai sebab. Sebab-sebab itu antara lain: tidak ada komitmen pimpinan, terlalu sedikit staf terlibat, scorecard disimpan saja, proses penyusunan yang lama dan sekali jadi, menganggap balanced scorecard sebagai sebuah proyek, kesalahan memilih konsultan, atau menggunakan balanced scorecard hanya untuk keperluan pemberian kompensasi.

Siapa yang menggunakan balanced scorecard? Banyak organisasi swasta, pemerintah dan nirlaba yang telah menggunakan balanced scorecard 60% dari 1000 organisasi dalam Fortune menggunakan balanced scorecard. Balanced scorecard semakin banyak diadopsi di Eropa, Australia dan Asia oleh organisasi besar, menengah dan kecil. Industri pengguna balanced scorecard sendiri terdiri dari berbagai macam perusahaan, seperti bank, konstruksi, jasa konsultansi, IT, perminyakan, farmasi, penerbangan, asuransi, manufacturing, perusahaan dagang dan distribusi. Perusahaan yang menunjukkan keberhasilan luar biasa setelah menerapkan balanced scorecard adalah antara lain: MOBIL Oil yang pada tahun 1993 menempati posisi ke 6 dalam provitability, kemudian menjadi nomor satu pada periode 1995–1998; CIGNA pada tahun 1993 rugi $275 M, tahun 1994: menjadi untung sebesar $15 M dan tahun 1997 sebesar $98 M; BROWN & ROOT ENG. tahun  1993 rugi namun tahun 1996 menjadi nomor satu dalam pertumbuhan profit.

Konsepsi Balanced Scorecard

Kemunculan gagasan balanced scorecard berawal dari temuan riset Kaplan dan Norton (dari Harvard Business School) pada awal tahun 1990an. Konsep awal balanced scorecard berdasarkan riset tersebut ditulis pada tahun 1992 di majalah prestisius Harvard Business Review. Pada tahun 1996 Norton dan Kaplan menerbitkan buku The Balanced Scorecard – Translating Strategy into Action, berdasarkan pengalaman mereka dalam menerapkan balanced scorecard pada banyak perusahaan di Amerika. Buku ini semakin mempopulerkan balanced scorecard, sampai ke negara-negara di Eropa, Australia dan Asia. Belum lama ini mereka menerbitkan buku The Strategy Focused Organisation – How BSC Companies Thrive in the New Business Environment (2001). Para penemu dan rekan-rekannya membangun sebuah lembaga Balanced Scorecard Collaboration untuk mempopulerkan penggunaan balanced scorecard pada berbagai institusi di berbagai negara. Secara teratur Norton dan Kaplan menyelenggarakan konferensi di berbagai negara untuk memperkenalkan dan membahas konsep-konsep terbaru mereka. Disayangkan Indonesia sampai saat ini belum mampu menghadirkan pencetus ide balanced scorecard ini, namun kursus-kursus dan buku-buku mengenai balanced scorecard sudah ada, walau masih bersifat terbatas.

Balanced scorecard secara singkat adalah suatu sistem manajemen untuk mengelola implementasi strategi, mengukur kinerja secara utuh, mengkomunikasikan visi, strategi dan sasaran kepada stakeholders. Kata balanced dalam balanced scorecard merujuk pada konsep keseimbangan antara berbagai perspektif, jangka waktu (pendek dan panjang), lingkup perhatian (intern dan ekstern). Kata scorecard mengacu pada rencana kinerja organisasi dan bagian-bagiannya serta ukurannya secara kuantitatif.

Balanced scorecard memberi manfaat bagi organisasi dalam beberapa cara:

ü  menjelaskan visi organisasi

ü  menyelaraskan organisasi untuk mencapai visi itu

ü  mengintegrasikan perencanaan strategis dan alokasi sumber daya

ü  meningkatkan efektivitas manajemen dengan menyediakan informasi yang tepat untuk mengarahkan perubahan

Selanjutnya dalam menerapkan balanced scorecard, Robert Kaplan dan David Norton, mensyaratkan dipegangnya lima prinsip utama berikut:

(1)         menerjemahkan sistem manajemen strategi berbasis balanced scorecard ke dalam terminologi operasional sehingga semua orang dapat memahami

(2)         menghubungkan dan menyelaraskan organisasi dengan strategi itu. Ini untuk memberikan arah dari eksekutif kepada staf garis depan

(3)         membuat strategi merupakan pekerjaan bagi semua orang melalui kontribusi setiap orang dalam implementasi strategis

(4)         membuat strategi suatu proses terus menerus melalui pembelajaran dan adaptasi organisasi dan

(5)         melaksanakan agenda perubahan oleh eksekutif guna memobilisasi perubahan.

Penggunaan Balanced Scorecard

Balanced scorecard digunakan dalam hampir keseluruhan proses penyusunan rencana. Tahapan penyusunan rencana pada dasarnya meliputi enam kegiatan berikut: perumusan strategi, perencanaan strategis, penyusunan program, penyusunan anggaran, implementasi dan pemantauan.

1.          Perumusan Strategi

Tahap ini ditujukan untuk menghasilkan misi, visi, keyakinan dan nilai dasar, dan tujuan institusi. Proses perumusan strategi dilakukan secara bertahap, yaitu: analisis eksternal, analisis internal, penentuan jati diri, dan perumusan strategi itu sendiri.

Analisis Eksternal dan Internal

ANALISIS EKSTERNAL terdiri dari analisis lingkungan makro dan mikro. Analisis lingkungan makro bertujuan mengidentifiksasi peluang dan ancaman makro yang berdampak terhadap value yang dihasilkan organisasi kepada pelanggan. Obyek pengamatan dalam analisis ini adalah antara lain: kekuatan politik dan hukum, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan sosial, faktor demografi.

Analisis eksternal mikro diterapkan pada lingkungan yang lebih dekat dengan institusi yang bersangkutan. Dalam dunia perusahaan, lingkungan tersebut adalah industri di mana suatu perusahaan termasuk di dalamnya. Analisis yang dilakukan dapat menggunakan teori Porter mengenai persaingan, yaitu: kekuatan tawar pemasok, ancaman pendatang baru, kekuatan tawar pembeli, ancaman produk atau jasa pengganti.

ANALISIS INTERNAL ditujukan untuk merumuskan kekuatan dan kelemahan perusahaan. Kekuatan suatu perusahaan antara lain: kompetensi yang unik, sumberdaya keuangan yang memadai, keterampilan yang unggul, citra yang baik, keunggulan biaya, kemampuan inovasi tinggi, dll. Sedangkan kelemahan perusahaan antara lain: tidak ada arah strategi yang jelas, posisi persaingan yang kurang baik, fasilitas yang ‘usang’, kesenjangan kemampuan manajerial, lini produk yang sempit, citra yang kurang baik, dll.

Penentuan Jati Diri

Penentuan jati diri organisasi terdiri dari perumusan misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar dan  tujuan organisasi.

MISI menjelaskan lingkup, maksud atau batas bisnis organisasi, yaitu kebutuham pelanggan apa yang akan dipenuhi oleh organisasi, siapa dan di mana; serta produk inti apa yang dihasilkan, dengan teknologi inti dan kompetensi inti apa. Misi ditulis sederhana, ringkas, terfokus. Unsur-unsur misi meliputi produk inti, kompetensi inti, dan teknologi inti. Yang dimaksud dengan produk inti adalah barang atau jasa yang dipersepsi bernilai tinggi  oleh pelanggan, berupa komponen kunci dilindungi hak paten dan menghasilkan laba terbesar. Kompetensi inti adalah kemampuan kunci yang dimiliki organisasi dalam menghasilkan produk inti. Sedang teknologi inti adalah know-how, perangkat keras dan perangkat lunak yang menjadi basis kompetensi inti.

print this page

Performance Indicator

 Here is file about performance indicators.

Download file here : Performance Indicators

print this page

Work Management File

This File Introduced you to know all about Work Management.

Download File Here :Proposed Adaption EFQM

print this page

Manajemen Kerja

MANAJEMEN MODAL KERJA



A. Pendahuluan
Dewasa ini  pengolahan modal  kerja suatu perusahaan  sudah meliputi berbagai fungsi yang tidak sekedar atau terbatas pada pengelolaan investasi
perusahaan dalam bentuk aktiva lancar. Ada dua masalah pokok dalam working
capital management dari suatu perusahaan yaitu :
a.  Pengelolaan investasi perusahaan yang berupa aktiva lancar.
b.  Pengelolaan   penggunaan    hutang   lancar   atau   hutang    jangka   pendek perusahaan.
Manajemen modal kerja meliputi beberapa aspek yang sering dijadikan
sebagai topik studi yang penting :
aSebahagian besar waktu manajer tersita untuk kegiatan yang berhubungan dengan modal kerja.
b.  Manajemen  modal   kerja  sangat  penting  bagi   perusahaan  yang  kecil.
Walaupun perusahaan ini dapat mengurangi investasi pada aktiva tetap dengan cara leasing, tetapi perusahaan tidak dapat menghindari kebutuhan akan kas, piutang dan pesediaan.
c.  Adanya   hubungan    langsung    antara   pertumbuhan    penjualan    dengan kebutuhan untuk membiayai aktiva lancar. Jika periode pengumpulan piutang adalah 30 hari dan penjualan kredit perhari adalah Rp.100.000,-, maka investasi               pada                piutang        dagang             Rp.3.000.000.     Jika        penjualan         perhari
meningkat,  maka investasi  padpiutang  juga  akameningkat  dan  juga membutuhkan penambahan persediaan dan mungkin juga pertambahan kas.
Jika   perusahaan    dapat   menahan    kas   sesuai   dengan   kebutuhan,
persediaan yang dibutuhkan untuk penjualan, mempertahankan piutang dagang sesuai dengan jumlah yang diperlukan untuk kebijaksanaan kredit yang optimum dan tidak menyimpan surat berharga, maka jumlah aktiva lancar yang sesuai dengan  prakiraan  yang  tepat  merupakan   jumlah  optimum  teoritis  untuk mencapai laba maksimum perusahaan.
Satu diantara manajemen modal kerja yang perlu mendapat perhatian yanlebih    penting          adalah manajemen          piutang.        Perusahaan                  umumnya
mempunyai piutang dagang karena melakukan penjualan barang dagangannya secara  kredit.  Semakin  besar  proporsi  dan  jumlapenjualan  kredit,  maka semakin besar pula piutang dagang yang dimiliki oleh perusahaan.
Pada beberapa perusahaan, piutang dagang merupakan hal yang amat
penting, dan memerlukan analisis yang seksama, piutang harus dikelola dengan efisien. Karena dengan memiliki piutang dagang, perusahaan juga menanggung tambahan biaya.
Dalam mengelola piutang dagang ada 2 (dua) hal yang harus dianalisis
yaitu :
1. Kebijaksanaan Kredit dan Pengumpulan Piutang
2. Analisis untuk Para Langganan.
Kedua hal tersebut saling berkaitan. Kebijaksanaan kredit menyangkut trade off” antara laba yang diperoleh dengan penjualan yang menimbulkan piutang di satu pihak, dan biaya yang ditanggung karena memiliki piutang tersebut ditambah lagi adanya kemungkinan piutang itu tidak bisa dikumpulkan.

Analisa kredit terhadap para langganan menentukan tingkat resiko yang bersedia ditanggung     oleh                  perusahaan.            Sebaliknya   tingkat   resiko   itu   menentukan kecepatan piutang berputar, besarnya investasi pada piutang dan jumlah piutang yang tidak tertagih. Dengan demikian analisa kredit terhadap para langganan ini mempengaruhi pula kebijaksanaan kredit yang akan diambil perusahaan.
Besar kecilnya piutang yang dimiliki perusahaan, disamping dipengaruhi oleh  kondisi  perekonomian  pada  umumnya,  juga  dipengaruhi  oleh  kondisi
perekonomian pada umumnya, juga dipengaruhi oleh kebijaksanaan kredit yang
ditentukan oleh perusahaan. Sementara kondisi perekonomian pada umumnya tidak bisa dipengaruhi oleh manajer keuangan, tetapi kebijaksanaan perkreditan
jelas bisa ditentukan oleh perusahaan.
Pengelolaan piutang dagang yang efisien perlu menilai kebijaksanaan kredit ini dengan membandingkan antara resiko dan profitabilitas, yaitu harus
membandingkan antara besarnya tambahan resiko dengan besarnya tambahan laba jika kebijaksanaan kredit diubah menjadi lebih lunak / ringan.

B. Kebijaksanaan Kredit
Kebijaksanaan    kredit    adalah    suatu     kebijaksanaan    yang    perlu dipertimbangkan dalam memberi kredit kepada para langganan. Kebijaksanaan kredit yang baik harus membandingkan antara resiko dan profitabilitas. Apabila perusahaan menurunkan standar kreditnya, maka penjualan akan meningkat, yang berarti terjadi peningkatan piutang, dan ini akan membawa keuntungan yang besar. Tetapi dengan peningkatan piutang dagang ini berarti perusahaan harus menanggung beban investasi pada piutang yang makin besar, ditambah kemungkinan peningkatan piutang yang tidak bisa terkumpul.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kebijaksanaan kredit adalah :
a.  Standar Kredit
Penentuan standar kredit pada dasarnya merupakan trade off antara peningkatan penjualan, dan peningkatan resiko tidak terbayarnya piutang.
Apabila perusahaan menjalankan standar kredit yang sangat longgar, artinya
hampir setiap pembeli diperkenankan membeli dengan cara kredit, maka bisa diperkirakan  bahwa  penjualan  memang  akan  meningkat,  tetapi  proporsi
piutang piutang yang tidak terbayar akan meningkat pula. Secara ekonomis
pelonggaran standar kredit dibenarkan apabila penambahan biaya akibat peningkatan         piutang                    lebih       rendah atau       samdengan penambahan
keuntungan laba akibat pertambahan atau peningkatan penjualan. Biaya- biaya yang dianggap meningkat karena peningkatan piutang diantaranya adalah  opportunity  cost  yaitu  biaya  dana  yang  tertanam  pada  piutang
tersebut, dan juga biaya untuk bagian yang menangani penagihan piutang tersebut.
b.  Jangka Waktu Kredit
Cara  ini  ditempuh  dengan  memperpanjang  waktu  kredit  dengan harapan agar penjualan bisa meningkat. Karena yang ditingkatkan hanyalah
jangka waktu kredit, maka umumnya resiko tidak terbayarnya piutang tidak
banyak berubah. Misalkan semula jangka waktu kredit adalah 30 hari tanpa potongan, kemudian diperpanjang menjadi 45 hari, juga tanpa potongan.
Dengan perubahan ini diperkirakan penjualan akan naik 10%. Untuk menentukan apakah perubahan jangka waktu kredit bisa dibenarkan, maka kita harus melakukan perhitungan sebagai berikut :
1Hitung pertambahan keuntungan setelah ada kenaikan penjualan yaitu dengan cara mengkalikan laba perunit dengan pertambahan unit yang dijual.

2Hitung tingkat perputaran piutang setelah ada perubahan yaitu dengan cara membagi 360 dengan 45.
3Hitung  jumlah  piutang  yang  tertanam  dengan  cara  membagi  total penjualan       setelah                 ada        perubahan            kebijaksanaan    dengan    tingkat perputaran piutang.
4.  Hitung tambahan piutang
5Hitung tambahan Investasi pada piutang yaitu dengan cara mengalikan tambahan piutang dengan harga pokok penjualan.
6.  Hitung keuntungan yang disyaratkan dengan cara mengkalikan tambahan investasi pada piutang dengan tingkat bunga yang berlaku.
7Jika tambahan keuntungan (point a) lebih besar daripada keuntungan yang disyaratkan (pointf), maka kebijaksanaan kredit dengan mengubah jangka waktu kredit yang dibenarkan.
c.  Pemberian Potongan (Discount)
Faktor ketiga yang harus diperhatikan adalah pemberian potongan kepada para pembeli. Apabila syarat penjualan adalah 2/10, n/30, maka itu berarti bahwa perusahaan akan memberi diskon sebesar 2%, jika pembeli
membayar dalam jangka 10 hari setelah tanggal transaksi penjualan, dan batas  terakhir pembayaran adalah 30 hari. Perusahaan bisa memberikan tambahan  potongan  untuk  merangsang  para  pembeli  untuk  melakukan
pembelian, dan membayar lebih cepat.

2. Analisis Pelanggan
Setelah kita menentukan kebijaksanaan kredit yang akan meningkatkan laba, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam manajemen piutang
adalah   melakukan   analisis   terhadap   calon   pelanggan.    Evaluasi   terhadap
pelanggan ini merupakan hal yang sangat penting untuk mengatasi kemungkinan piutang  yang  tidak  dapat  ditagih.  Untuk  itu  perlu  langkah  mengumpulkan
informasi   lebih   dahulu   terhadap   calon   pelanggan   dan   menganalisi   calon pelanggan tersebut berdasarkan informasi yang kita terima.
Untuk mendapatkan informasi-informasi mengenai para calon pelanggan,
perusahaan  memerlukan  danuntuk  keperluan  itu.  Untuk beberapa  piutang dagang yang berjumlah kecil, biaya yang dikeluarkan kemungkinan lebih banyak jika dibandingkan dengan keuntungan potensial dari piutang dagang tersebut. Jika hal ini yang dihadapi perusahaan, maka perusahaan harus puas dengan informasi yang terbatas yang dipakai sebagai dasar mengambil keputusan kredit.
Jika calon pelanggan adalah perusahaan yang relatif besar, maka sumber informasi utama dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan tersebut. Tetapi
sebahagian perusahaan tidak mau menunjukkan laporan keuangan kepada calon supplier mereka, dan jika hal itu terjadi, maka informasi mengenai calon pembeli seperti  ini  dapat kitperoleh  dari  perusahaan-perusahaan  lain  yanpernah berhubungan dengan mereka.
Untuk menggambarkan mengenai kebijaksanaan kredit, maka diberikan contoh berikut ini. PT. Wahyudi mempunyai penjualan tahunan sebesar Rp.72 juta, semuanya penjualan kredit. Harga jual produk Rp.20/unit, dengan biaya variabelnya sebelum pajak Rp. 15/unit. Dengan pelonggaran kredit diharapkan
penjualan  akan  meningkat  20%.  Tingkat  keuntungan  yang disyaratkan  20% sebelum  pajak. Rata-rata hari  pengumpulan piutansebelupelonggaran  1 bulan dan sesudahnya menjadi dua bulan. Dari data tersebut, coba anda analisa
apakah pelonggaran kredit itu bisa diterima.



Profitabilitas tambahan              = 720.000 unit x Rp.5        = Rp. 3.600.000
Tk piutang sebelum pelonggaran= Rp.72.000.000/12            = Rp. 6.000.000
Tk piutang setelah pelonggaran = Rp.86.400.000/6             = Rp.14.400.000
Tambahan Piutang                                                         = Rp. 8.400.000
Tambahan Investasi Piutang       = Rp. 8.400.000 x 0,75      = Rp. 6.300.000
Biaya Piutang                          = 0,2 x 6.300.000             = Rp. 1.260.000

Karena Tambahan keuntungan > dari biaya piutang, maka pelonggaran kredit bisa dilakukan.

print this page
 

Posting Terbaru

Cara Berbagi atau Sharing

Jika Anda ingin berbagi artikel dari Healthcare Managerial Coach, caranya mudah, tinggal gunakan tombol Share (Facebook), Tweet, dan +1(google plus). Cara lain silahkan tunjukkan website ini kepada teman Anda. Misalnya pasang link website ini di web/blog Anda.

Mohon tidak copy paste tanpa seijin tertulis pihak Healthcare Managerial Coach. Hargailah hasil karya orang lain.


Diberdayakan oleh Blogger.